Sabtu, 10 Oktober 2015

Di padang mimpi rindu terhampar.
Asa hati tergoda kian terlantar
Merangkainya dalam keabadian samar
Di bawah pesona aurora langit yang nanar
Diri terbuang terlunta dan terbiar
Rona matanya penuh cahaya nan mempesona
Cuma skilas menjadi harap hampa
Karena disana tiada mengerti kegelisahan jiwa
Menanti ungkapan rasa yang bukan sebatas penghibur semata
Namun ketulusan hati tanpa ada dusta
Mengenggam setia mengikat penuh cinta
Sinaran cahaya rembulan terasa semu
Rona bintangpun tanpa kerlipan merayu
Semakin tenggelam diri dalam kegelisahan yang mencandu
Bagai terbelenggu sunyi sang awan menyelimut kelabu
Karena kerinduan hati tiada menemui ujung temu
Menyisakan keraguan akan akhir cerita rindu
Tenggelam semakin dalam menanti sebatas tunggu,
Tertipu hati dirundung pilu,
Hanya bayangan yang hadir menipu,
Kepalsuan menggangu tanpa ada jemu
Meninggalkan kesakitan hati merasuk kalbu


Dengkur dan mata mulai terpejam,
Kopi dalam cawanpun hanya tingggal menyisakan ampas,
Ocehan-ocehan syarat makna berpengetahuan masih semangat keluar,
Masih dalam dinding persegi 5x4 meter berdebu. Cawan, ocehan, dan entahlah...
Siap dipinggirku..?? Sontak kekagetan dengan nada tinggi
Ah biarlah... Jadikanlah ia hanya sebagai obat penenang rasa kantuk setiap masuk dalam dinding 5x4 meter..
Malam mulai disetubuhi siang.
Kokok, alrm berdering membangn..
Membangun setiap jiwa yg ingin bersetubuh dengan Tuhannya...
Dalam asma, ku eja atas nama cinta dan Do'a,
Tidurlah bersama, dalam lantun bait asmanya..
Ku sebut atas nama kerinduan yg membabi..

 Bekasi, 09_10_2015

Minggu, 05 Juli 2015

Kebebasan

Di antara nilai-nilai kemanusiaan yang juga sangat diperhatikan oleh Islam adalah "kebebasan”, yang dengannya dapat menyelamatkan manusia dari segala bentuk tekanan, paksaan, kediktatoran dan penjajahan. Selain itu juga bisa menjadikan manusia sebagai pemimpin dalam kehidupan ini, tetapi pada saat yang sama ia juga sebagai hamba Allah.
Kebebasan di sini meliputi: kebebasan beragama, kebebasan berfikir, kebebasan berpolitik, kebebasan madaniyah (bertempat tinggal) dan segala bentuk kebebasan yang hakiki dalam kebenaran. Yang kita maksud dengan kebebasan agama adalah kebebasan dalam beraqidah (berkeyakinan) dan kebebasan melakukan ibadah. Maka tidak diterima keIslaman seseorang di saat ia dipaksa untuk meninggalkan agama yang ia cintai dan ia peluk, atau dipaksa untuk memeluk agama yang tidak ia sukai. "Nash-nash al-Qur'an secara terang-terangan melarang tindakan seperti itu, sebagaimana tersebut dalam ayat Makkiyah:
"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat." (QS. al-Baqarah: 256)
Siapa saja dari orang-orang di luar Islam yang berada dalam tanggung jawab kaum Muslimin maka dia telah mendapat hak seperti kaum Muslimin secara umum, dengan beberapa pengecualian yang ditentukan oleh agama. Maka tidak wajib baginya segala sesuatu yang diwajibkan kepada kaum Muslimin, dan tidak terlarang baginya sesuatu yang diharamkan kepada kaum Muslimin. Dengan beberapa pembatasan tertentu sesuai syari'at Islam.
Ada sebagian manusia yang menulis pada zaman ini, ia mengatakan bahwa sesungguhnya warisan Khazanah Arab dan Islam tidak mengenal adanya kebebasan dengan pemahaman modern sebagaimana yang kita dapatkan dari barat, tepatnya setelah revolusi Perancis.
 Akan tetapi Islam hanya mengenal makna kemerdekaan (kebebasan) itu dalam arti sekedar tidak memperbudak saja, hingga orang yang merdeka adalah orang yang bukan budak. Dan kemerdekaan itu adalah kebalikan dari perbudakan dan penghambaan.
Maka sangat memprihatinkan ketika kita mempercayai adanya kebebasan atau menyerukan kebebasan dengan mengacu pada Perancis, padahal sebelumnya kita tidak mengenalnya! sungguh heran ketika mereka mengatakan seperti itu padahal mereka mengaku atau diakui sebagai intelektual atau ilmuwan.
Karena melihat fenomena seperti ini maka wajib bagi kita untuk menjelaskan beberapa hakikat kebenaran agar menjadi peringatan bagi semua pihak, antara lain sebagai berikut:
Pertama: kita tidak mengingkari bahwa asal mula dan hakikat secara bahasa dalam memberikan arti kata kemerdekaan adalah lawan dari perbudakan, yang berarti menguasai dan mendominasi terhadap seseorang. Sementara kemerdekaan berarti membebaskan dari kekuasaan tersebut dan melepaskan perbudakannya. Tetapi ini bukan arti satu-satunya dalam bahasa.
Kemerdekaan atau kebebasan memiliki arti yang luas yang juga berarti membebaskan manusia dari segala cengkeraman dan kekuasaan tidak benar, dari penguasa yang zhalim atau kekuatan yang diktator.
Tidak adanya kata-kata atau istilah tertentu yang menunjukkan satu pengertian atau kandungan makna yang kita ketahui sekarang itu bukan berarti tidak adanya arti atau kandungan tersebut. Karena kadang-kadang arti itu kita dapatkan pada kata-kata atau istilah yang lain, kadang-kadang juga banyak digunakan dalam kata-kata atau istilah-istilah yang lainnya. Misalnya, seorang peneliti tidak mendapatkan dalam khasanah kata kalimat "Al-Musaawaat" (emansipasi) digunakan sebagaimana kita pergunakan sekarang ini.
Tetapi dengan pembahasan yang sederhana ia akan mendapatkan maknanya banyak tersebar di dalam ayat-ayat al-Qur'an dan hadits-hadits Rasulullah Saw dan dalam berbagai ibadah dalam Islam. Seperti dalam shalat, puasa, haji dan umrah, dan di dalam hukum-hukum Islam dan sanksi-sanksinya yang tidak membedakan antara orang bangSawan atau orang rendahan, serta di dalam prinsip-prinsip Islam yang menghilangkan perbedaan antar jenis kelamin, warna kulit dan status sosial ekonomi, dan menjadikan manusia sama rata seperti samanya gigi sisir, kecuali oleh taqwanya.
Islam menyeru kepada kita untuk berperang dan mengumumkan peperangan dalam rangka membebaskan orang-orang yang tertindas di Bumi ini dari cengkeraman para penindas, penjajah dan orang-orang yang diktator.
Apabila manusia tidak mampu untuk memberantas tekanan dan penindasan, maka tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak bisa hijrah dari kampung halaman mereka, dan tidak alasan atas diri mereka untuk menerima kehinaan dan tetap di bawah cengkeraman kezhaliman dan penindasan. Al-Qur'an telah memberi ancaman yang keras bagi orang yang rela untuk hidup terhina dan menyerah, di mana ia tidak termasuk orang yang memerangi, dan tidak pula termasuk orang yang berhijrah bersama Muhajirin.
Sesungguhnya orang yang memberikan haknya kepada Islam berupa pemahaman dan merenungkannya akan mendapatkan bahwa sesungguhnva inti dari semuanya adalah tauhid. Taubid adalah "ruh eksistensi Islam," tauhid merupakan asas pemikiran dan asas fiIsafat yang merealisasikan prinsip kebebasan, persaudaraan dan persamaan secara keseluruhan.
Kalimat tauhid adalah kalimat "Lâ ilâha illallah" yang berarti menggugurkan orang-orang yang mengaku tuhan dan yang diktator di Bumi dan menurunkan mereka dari singgasana rubbubiyah yang palsu dan kesombongan (merasa tinggi) di atas makhluk sesamanya menuju persamaan hak antar manusia seluruhnya dalam beribadah kepada Allah.
Oleh karena itu, surat-surat Nabi Saw dikirimkan kepada kaisar dan para pemimpin kaum Nasrani serta raja-raja mereka di Mesir, Habasyah (Ethiopia) dan lainnya ditutup dengan seruan. Sesungguhnya sesuatu yang paling besar perannya dalam menghancurkan kebebasan manusia dan yang datang untuk merusak bangunannya adalah penghambaan antar manusia satu dengan yang lainnya dari selain Allah. Kita dituntut agar dapat mengembalikan kemerdekaan dan kehormatan mereka, oleh karenanya kita harus menghancurkan Tuhan-tuhan palsu yang mereka yakini, terutama di dalam jiwa orang-orang yang menganggap diri mereka sebagai Tuhan, padahal mereka adalah makhluk sebagaimana makhluk yang lain. Yang tidak bisa mendatangkan bahaya atau manfaat, yang tidak bisa mematikan dan menghidupkan serta tidak bisa membangkitkan.

Orang-orang musyrik Arab memahami akan hakikat tersebut sejak Rasulullah Saw pertama kali mendakwahkan tauhid dan syahadah bahwa tidak ada illah selain Allah. Mereka mengetahui bahwa di balik kalimat syahadah itu terdapat perombakan dalam kehidupan sosial masyarakat, dan sesungguhnya kalimat itu menginginkan kelahiran baru bagi anak manusia, terutama orang-orang fakir dan kaum yang tertindas. Maka tidak heran jika orang-orang musyrik itu berdiri di hadapan kalimat ini dan memobilisasi segala kekuatan mereka untuk memerangi setiap orang yang beriman terhadap kalimat ini dan memenuhi seruannya.

Sabtu, 20 Juni 2015

perkembangan peradaban islam

sejak adanya manusia, Allah Swt. Telah menetapkan aturan tentang tata cara ibadah dan bermuamlaah yang mengikat manusia. Sebagai agama samawi, Islam merupakan agama yang telah didakwahkan olen nabi-nabi dan rasul-Nya sebelum Nabi Muhammad Saw. Sebagai aturan allah, Islam telah menghapuskan berbagai bentuk kemusyrikan yang berkembang pesat dikalangan bangsa Arab dan sekitarnya, dan menggantikannya dengan Tuhid dan panji-panji pedaban Islam yang bersendikan nilai-nilai ibadah, Syari'an, dan akhlak dalam pengertian yang seluas-luasnya untuk melahirkan wujud peradaban yang menegakan sendi-sendi iman, Islam, dan ihsan menuju terciptanya baldatun thayyibatun wa rabbun ghappur. hal tersebut dapat dilihat dari keberhasilan umat Islam alam merealisasikan ajaran-ajaran Islam yang berkembang dalam berbagai produk budaya, mulai dari masalah hukum, filsafat, seni, folitik, sosial dan sebagainya. semua aspek tersebut merupakan bentuk kreativitas yang dilakukan oleh umat Islam melalui proses dialog dengan budaya lokal yang dihadapi. konsep dialogis tersebut membuktikan bahwa Islam telah melahirkan berbagai corak peradaban yang paling berpengaruh dan paling luas jangkauannya

Islam dan materialis



Sistem ekonomi Materialis tegak di atas pengkultusan terhadap kebebasan individu dan terlepas dari segala ikatan. Setiap individu bebas memiliki, mengembangkan dan menafkahkan dengan berbagai sarana yang dimiliki tanpa adanya aturan dan pembatasan.
Adapun hak masyarakat atas hartanya dan di dalam pengawasannya serta perhitungan atas pemilikannya, pengembangan dan pendistribusiannya, adalah hak yang lemah, bahkan hampir tidak memiliki pengaruh apa-apa. Sementara dari hati nuraninya mereka tidak lagi memiliki rasa pengawasan dan tanggung jawab yang menjadikannya menghormati kebenaran dan memeliharanya. Bahkan setiap saat mereka berusaha sedapat mungkin untuk lolos dari pengawasan hukum.
Adapun Islam, sungguh telah kita lihat bahwa dia meletakkan batas-batas atas pemilikan (hak milik) dan karya, juga batas-batas dalam pengembangan, pengeluaran dan pembelanjaannya. Islam menentukan batas-batas atas pemilikan, yang sebagiannya bersifat selamanya dan sebagian lagi bersifat sementara. Islam juga menghapus bentuk pemilikan yang diharamkan dan melarang riba, menimbun, menipu dan yang lainnya dari segala sesuatu yang menafikan (mengesampingkan) akhlaq dan bertentangan dengan kemaslahatan umum. Islam juga menjadikan hati nurani seorang Muslim untuk selalu melihat Al Khaliq Allah SWT, sebelum makhluq-Nya dalam setiap permasalahan. Dialah yang menjaga dan mengawasi pertama kali untuk memelihara hak-hak tersebut dari pemilik harta yang sesungguhnya. Dia-lah Allah SWT.
Islam juga memberi hak kepada seorang hakim syar'i yang melaksanakan hukum Allah untuk mencabut pemilikan seseorang, apabila ternyata memang bertentangan dengan kemaslahatan umum. Demikian juga Islam memberi wewenang kepadanya untuk tidak memberikan harta kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya dan orang yang menghambur-hamburkan harta serta menahan mereka untuk tidak mempergunakan harta yang pada hakekatnya merupakan harta masyarakat atau harta Allah menurut prinsip "Istikhlaf" (amanah), sebagaimana yang telah kami terangkan sebelum ini.


Samudra Cinta Lautan Lepas menjawab






Riak-riak ombak menyeruakan gemuruh senja, bias-bias mega di ujung langit semakin memperindah tatapan mata. Masih indah kupandang samudra senja dengan balutan mega, aku duduk termenung dibibir pantai putih menghirup dan menghembus nafas, sepintas mata ini terpejam, seakan berusaha merekah ulang masa indah yang telah lama menjadi ingatan semu dalam batin dan meraga dalam, sampai ke ufuk jiwa disebrang taman ruh hati ini. tanpa ku rasa seasana senja kian perlahan hilang diganti dengan ribuan bintang hiasi sang langit, deruan ombak pun semakin liar karena lautan mulai pasang.
Aku membaringkan tubuhku dan memejam mata untuk meluruskan sendi-sendi tulang di bibir pantai pasir putih, sekelabat muncul dalam ingatan semu, gadis yang aku temui di desa sebrang, orang desa sering memanggilnya Meysa. Meysa adalah seorang gadis yang anggun, polos, dan lugu, dibalik keluguan dan kepolosannya, Meysa mempunyai mata sipit yang indah, berkulit putih langsat, hidung mancung, bibir merah tipis merekah, rambut hitam panjang sampai ke punggung, alis yang tipis dan dagu yang tirus.
Malam pun tiba… tanpa kusadari wanita berbalut jilbab putih menghampiri dan menepuk pundakku, kaki langkahnya tak bersuara bagai angina, wanita itu menyapa dan menegurku,, hai.. sedang apa kamu disini sendiri?
Sontak kekagetan menghampiri, aku langsung menoleh kebelakang terbangun dari perebahan,, “ya” aku lagi duduk santai sembari menikmati udara pantai malam.” Jawabku
“oh ya?.” Tapi kenapa dari raut wajahmu ada hal yang sedang engkau pikirkan Nampak jelas kegelisahan yang tergambarkan dari mata sayumu?.
“tak ada apa-apa,, ini hanya ingatan semu masa lalu yang kembali muncul dalam ingatan sempitku.” Jawabku.
Oh begitu ya. Bolehkah aku tahu ingatan semu apakah yang engkau maksud? Tanya wanita berbalut jilbab putih.
Dengan terbata-bata aku menceritakan kisah pertemuan dengan gadis desa dua bulan lalu, mempunyai mata sipit yang indah, berkulit putih langsat, hidung mancung, bibir merah tipis merekah, rambut hitam panjang sampai ke punggung, alis yang tipis dan dagu yang tirus dan senyumnya yang merekah bagai bunga mawar yang bru mekar.
Benarkah ?? “dengan nada sedikit meninggi,, mungkin Tuhan belum menakdirkan kamu duduk bersanding dengan gadis yang kau gambarkan tadi.” Jawab wanita berbalut jilbab putih. Oke kalau begitu, aku pamit pulang, malam semakin larut, udara semakin dingin, jangan terlalu malam dipantai, angina malam tak baik bagi kesehatan.
“Ya terimakasih,, hati-hati dijalan”, jawabku
Aku kembali merebahkan tubuhku dibibir pantai dan memejam mata kembali. Hati kecil ini berkata..”kehidupan berbalut cinta biarlah ku eja atas nama do’a, ikhtiar dan tawakal. Seikat dan segumpal harap rindu mendayu menuju kekal. Tak semudah ku membalikkan telapak tanganku. Biarlah lembut hati yang akan meluluhkan kekerasan, tak ada satupun jiwa yang tak mau bahagia, ku eja atas asma-asma yang penuh cinta dan kasih, agar tenanglah hatiku ketika badai ragu menejang teguh dan yakinku. Semua menari, semua menyanyi, berdendang tentang sebuah alur-alur sendu. Nyanyian alam membaringkan jiwa pada kerinduan-kerinduan yang alami, namun sungguh itu tak ku temui disini.
Ada banyak hal yang ingin kusampaikan untukmu, betapa banyak tersimpan segala kurangku  atau bahkan lebihnya kasihku, yang dalam hati terus membuncak untukmu, seikat dari sejuta salamku tertuai untukmu, lewat angina malam kutitipkan salamku dan aku masih setia untuk satu jujurku dan tiga kalimat suci yang masih tersimpan kuat dan rapat dalam qalbuku.
Pagi datang mengganti malam, aku bergegas dan bersiap untuk pulang dari pantai lautan lepas yang menyisakan sebuah ingatan semu dalam batin dan meraga dalam. Satu langkah bergegas pulang akhirnya terhenti ketika mata ini tertuju pada wanita yang berdiri di bibir pantai, jaraknya cukup dekat sekitar 30 meter sebelah kiri tempat aku berdiri, mata ini mempehatikan dengan seksama wanita itu meski masih rebun, hamper semua ciri yang dimilikinya mirip dengan wanita yang aku temui di desa sebrang dua bulan lalu, dari mulai ujung rambut sampai ujung kaki. Aku menghampirinya karena rasa penasaranku, semakin jelaslah ciri yang dimilikinya. Semakin jelaslah ku lihat ciri yang dimilikinya. Setelah bertanya dan sedikit berbincang, benarlah wanita di bibir pantai itu adalah Meysa, gadis yang aku temui di sebrang desa dua bulan lalu. Akhirnya kami saling melontar kata dank u ceritakan kisahku saat pertama kali bertemu dengannya.
Dengan mengesampingkan rasa malu, tiga kalimat melontar dari bibir kotor ini, “AKU CINTA KAMU” keheningan timbul dalam suasana pagi. Hati ini mulai tak karuan, ketakutan kian membuncah saat kata itu keluar, ketakutan akan kenyelenehan mulut ini. ternyata tiga kalimat itu muncul dari bibir indahnya, AKU CINTA KAMU juga. Sontak kekagetan muncul saat telinga ini mendengarnya.
Benarkah itu Meysa? Tanyaku
Ia benar, aku juga mempunyai perasaan yang sama denganmu, aku selalu berdo’a dan berharap pada Tuhanku agar kita dipertemukan kembali denganmu,” Jawab Meysa.
Meysa juga tak tahu kenapa kamu mempunyai perasaan yang sama? Tanyaku
Meysa juga tak tahu kenapa, tapi hati ini telah terkunci untukmu? Jawab meysa.
Ya sudah biarlah, namun yang terpenting kita telah bersatu dalam iktan cinta dan samudralah yang menjadi saksi ikatan cinta kita. Kebahagiaan tak terhingga dalam jiwa, scenario Tuhan memang tak terkira, mungkin Tuhan menakdirkan kita disini dengan membiarkan hambanya sedikit berkeluh kesah atasnya. Kebahagiaan itupun membuncah dalam hati, tangan ini langsung memegang erat tangannya dan kami pun menceburkan diri ke tepian lautan lepas.



Selasa, 06 Januari 2015

Menegakan Nilai-nilai Ajaran Al-Qur’an dalam Kehidupan Modern di Indonesia


Kitab suci al-Qur’an secara amat jelas mempermaklumkan bahwa islam adalah agama yang mendapat perkenan Tuhan. Bahkan lebih jauh lagi kitab suci ini mempertanyakan: “apakah mereka masih mencari agama yang lain dari agama Allah padahal kepada-Nyalah menyerahkan diri segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.” (Qs Ali-imran: Samap disini yang mejadi masalah adalah, kalau agama ini mendapat perkenan dari Allah SWT, apakah ia juga akan bisa mendapat perkenan dan diterima manusia yang hidup pada masa yang disebut sebagai pascamodern (post modern). Untuk meruntutkan jalur analisis, berikut dikedepankan dua isu yang pernah menggetarkan dunia, khususnya masa depan kehidupan beragama, yang berkembang tahun 1992-1994. Pertama, dengan runtuhnya Uni Soviet, dunia mencari ‘kambing hitam’, yang secara sederhana dapat dirumuskan dalam pertanyaan, “siapakah lagi kira-kira yang bisa dilaga oleh Barat?” Disisni sering kali sebagian orang berpendapat bahwa yang paling empuk dan potensial untuk dilaga oleh Barat adalah islam (Fundamentalis). Hal semacam ini membuat sebagian uamat beragama seringkali incompatoble (salah pendirian). Kedua, umat beragama boleh bangga, memang gelagat dunia menunjukan bahwa agama akan semakin berperan penting dimasa depan. Sebab dengan perkembangan demografi serta revolusi teknologi informasi dan informatika, maka agama bagaikan dalam dua bisnis kini memasuki pasaran internasional.
Berkenaan dengan revalitas agama untuk masa depan itu, satu hal menarik untuk diamati, khususnya bagi masyarakat Indonesia adalah posisi Departemen Agama. Sikap indonesia terhadap agama secara amat jelas diatur dalam UUD 1945 pada pasal 29 ayat 2: “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agama dan kepercayaan itu.” Pada sisi lain dapat pula dilihat umpamanya dalam berbagai pernyataaan para pejabat resmi negara, yaitu bahwa Indonesia yang berdasarkan pancasila dan UUD 1945 bukanlah negara sekuler, dan bukan pula negara agama. Akan tetapi negara kita bersikap positif dan pro terhadap semua agama yang diakuinya (bukan salah satunya).
pada sisi lain, dan tentu yang lebih monumental, sikap positif sikap positif bangsa ini terhadap semua agama adalah lahirnya Departemen Agama tanggal 3 januari 1946, sebagai suatu lembaga negara yang bertugas melaksanakan setiap kebijaksanaan pemerintah dalam bidang agama dari kelima agama; Islam,Katolik, Kristen Protestan, Hindu, dan Budha.
Tugas pokok departemen ini adalah menyelenggarakan sebagian dari tugas umum pemerintah dan pembangunan di bidang agama. Alangkah penting dan mulianya tugas ini, dan tampaknyaa semua orang mengetahuinya. Namun, sampai di sini kita harus berhenti sejenak untuk bertanya  kembali pada diri sendiri, sebab tidak semua orang menyadari apa hakikat dari tugas itu apalagi implikasinya dalam berbagai aspek kehidupan dalam arti yang seluas-luasnya. Dua penyataan ini saling  menyempurnakan. Kalau pernyataan pertama melukiskan betapa pentingnya tugas departemen ini, sebab menyangkut kepentinga mutlak (problem of ultimate concern) segenap bangsa dan menyangkut ketuhanan sebagai nafas dari dasar filosofi bangsa ini pernyataan kedua menyoroti pentingnya ketauladanan segenap aparatnya. Ketauladanan barisan ptih-putih ini memang amat dibutuhkan, sebab kebenaran suatu agama  tidak dapat dipahami melalui pormula-pormula abstrak tentang kepercayaan dan nilainya saja, melainkan kebenarannya harus tampak pada kenyataan kehidupan penganutnya sehari-hari, terutama para pemukanya. Oleh karenanya barisan putih-putih (aparat Departemen Agama) kiranya perlu menyadari sedalam-dalamnya, bahwa masyarakat modern sangat mendambakan adanya ‘komunitas tauladan’ beragama dalam berbagai aspek kehidupan. Masyarakat membutuhkan tauladan dalam membaca dan mengantisipasi perubahan sosial. Namun, apabila kita berbicara peranan  agama masalah yang segera muncul adalah kaitan organik dan pungsional yang bersifat normatif, dan hal ini seringkali menyebabkan nilai-nilai agama yang bersifat motivatif dan inspiratif tidak mampu digali dan dikuak oleh para pemeluknya, jika bukan pemukanya. Realitas keagamaan ini menyebabkan agama menghadapi dua masalah.
Pada satu sisi, agama dipanggil untuk memberikan rasa aman atas persoalan manusia, tetapi pada pihak lain agama dihadapkan pada persoalan mencari jalan keluar dari struktur yang semakin mencekam. Kedua masalah yang sangat dilematis ini merupakan tantangan agama dalam proses perubahan sosial yang luar biasa cepatnya. Agar  berhasil dengan gemilang melewati keadaan yang sedemikian dilematis, dan agar dapat mengantisipasi persoalan masa depan mereka, umat beragama tampaknya mengharapkan adanya ikutan (Imam) dan panutan (uswatun hasanah) ditengah-tengah mereka, siapakah yang diharapkan sebagai panutan itu? Tanpa ragu-ragu kita dapat berkata bahwa yang paling potensial adalah ‘barisan putih-putih’, aparat Departemen agama.
 Negara kita mengakui secara resmi lima agama besar yang dianut penduduknya. Lewat UUD 1945 telah dijamin kebebasan mereka melaksanakan ajaran agamanya masing-masing. Namun, harus kita akui masih sering terjadi  ‘riak-riak’ yang mengganggu keharmonisan umat beragama itu. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya kesadaran pemeluk agama tentang titik temu  agama-agama yang ada. Kerukunan beragama dipandang sebagai sangat politis dan hanya program pemrintah. Melihat keadaan ini, disamping usaha-usaha yang ada, kita perlu mencari usaha lain yang lebih mendasar untuk menciptakan kerukunan yang lebih harmonis di masa depan.  Usaha-usaha ini ternyata sering ditanggapi umat beragama secara simplistik dengan menganggapnya sebagai usaha untuk memandang semua agama itu sama. Kita lihat bagaimana buku Harun nasution islam ditinjau dari berbagai aspeknya itu mendapat kritikan emosional dari sebagian besar umat bergama. Sementara makalah nurkholis majid beberapa renungan tentang kehidupan keagamaan di Indonesia untuk generasi mendatang yang disampaikan TIM 21 Oktober 1992 itu juga mendapat reaksi keras dari sebagian besar pemelik agama, padahal isi makalah itu khususnya menyangkut titik temu agama-agama telah dimuat prisma no. 9 tahun 1986, hlm. 41-42 dengan judul ‘meninggalkan kemutlakan jalan menuju perdamaian’. Terhadap tanggapan-tanggapan simplistik itu teringat pada statemen Max Muller yang mengatakan bahwa orang yang hanya mengetahui satu agama (agama sendiri) sebetulnya tidak mengetahui apa-apa.
Kalau  kita menyebut beberapa kecenderungan baru kebangkitan Islam dan keberagaman di indonesia pada dekade terakhir ini, maka akan ditemukan tiga hal yang paling menonjol, pertama, munculnya keinginan setiap umat Islam untuk meresponsi era pembangunan bangsa secara lebih kreatif dan bermanfaat dengan semangat keislaman dan keindonesiaan. Kedua, munculnya kesadaran yang kian lama semakin mengental dan semakin meluas mengenai perlunya pemahaman islam yang baru secara lebih intelektual dan rasional. Ketiga, munculnya keinginan agar responsi dan pemahaman Islam yang baru itu tetap tidak melupakan jati dirinya sebagai manusia yang berbudaya Indonesia. Ketiga kecenderungan itu kelihatanya mengacu pada cita-cita bersama, yaitu agar umat Islam di masa-masa yang akan datang bisa lebih maju dan berkembanng dari sekaranng, dan untuk mencapai kemajuann itu , cara yang lebih tepat dan efektif adalah memberi sumbangan berupa partisipasi dam arti yang seluas-luasnya yang semakin maksimal dan terbaik bagi pembangunan bangsa di masa mendatang.
Jika berbicara mengenai agama yang akan berperan besar di masa depan (post modern), mata dunia nampaknya menoleh pada islam. Ini kenyataan, dan tentunya kurang fair jika diklaim hanya sebagai sikap apologetis pedukung agama ini. Namun, sampai disini, memang kata kunci yang perlu diperhatikan adalah, kesanggupan dan kearifan. Kesanggupan artinya, sangat tergantung pada kesanggupan umatnya untuk mendaratkan kesempurnaan ajaran agama ini pada dataran kehidupan, bukan hanya dalam konsep dan ucapan. Sedangkan kearifan maksudnya sejauh mana kearifan mereka untuk membumikan aspek paling dinamis, humanis, dan kosmopolit dari ajaran agamanya, demi kebaikan untuk bersama.
Memasuki keadaan dunia yang semakin mengglobal, abad duapuluh satu dan seterusnya, kelihatanya masyarakat Indonesia menghadapi tiga tantangan utama, yaitu tantangan kependudukan, tantangan lingkunhgan, dan tantangan pembangunan. Untuk menjawab ketiga tantangan itu, kata kunci kata kunci yang erlu dipegang adalah ‘peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia’, dan karena mayoritas masyarakat Indonesia bergama Islam, maka pembinaan kualitas manusia Indonesia itu, kiranya pantas didasarkan pada nilai-nilai ajaran agama Islam yang kosmopolit (rahmatal lil ‘alamin).
Secara garis besar kualitas manusia Indonesia dapat dikelompokan kepada dua bagian. Pertama, kualitas fisik, yang menyangkut ciri-ciri kualitas yang bersifat lahiriyah atau badaniyah, seperti ukuran dan bentuk badan, daya atau tenaga fisik yang dimilikinya, kesegaran jasmani, kesehatan jasmani dan lain-lain ini. Ini semua merupakan kualitas pribadi yang melekat pada diri seseorang. Kedua, kualitas nonfisik, menyangkut kualitas yang bersifat batiniyah, yang meliputi (1) kualitas pribadi yang melekat pada diri, (2) kualitas hubungnan dengan pihak lain, seperti Tuhan, lingkungan masyarakat, dan manusia lain, (3) kualitas kekaryaan yang tercermin dalam produktivitas, disiplin, keswadayaan, keswakaryaan, dan wawasan masa depan. Dari pengelompokan ini dapat dirumuskan bahwa manusia berkualitas adalah manusia yang memilki ciri-ciri berikiut:
1.     Memiliki iman dan taqwa, serta moralitas.
2.    Memiliki tanggung jawab pribadi dan jujur.
3.    Memiliki fisik atau jasmaniyah yang sehat.
4.    Menghargai ketepatan waktu.
5.    Memiki etos kerja yang tinggi.
6.    Memiliki visi yang jelas mengenai masa depannya.
7.    Menghargai dan  memiliki ilmu pengetahuan.

Rumusan tentang manusia berkualitas disini identik dengan manusia modern, dan pengembangan sumber daya manusi Indonesia tampaknya memang absah jika diarahkan pada terwujudnya manusia Indonesia yang modern dan berkualitas, yang dalam terminologi pembangunan dirumuskan sebagai manusia seutuhnya. 

SEPUTAR AL-QUR’AN


Pengertian al-Qur’an secara lengkap dikemukakan oleh Abd Al-wahhab Al-khalaf menurutnya “al-Qur’an adalah firman Allah Swt yang diturunan kepada Rasulullah Saw, melalui Jibri dengan menggunakan lafadz bahasa arab, menjadi undang-undang bagi manusia, memberi petunjuk kepada mereka, dan menjadi sarana untuk melakukan pendekatan diri dan ibadah kepada Allah swt. Ia terhimpun dalam mushaf dimulai dari surat al-fatihah dan diakhiri dengan surat al-Nas, disampaikan kepada kita secara mutawattir dari generasi kegenerasi, baik secara lisan maupun tulisan, serta terjaga dari perubahan dan pergantian.”[1]
Al-Qur’an merupakan kitab yang sangat menakjubkan, mengagumkan kemudian orsinilitas dan kualitasnya akan tetap terjaga sampai kapanpun, al-Quran berisi narasi dan rekaman-rekaman dan cerita nabi-nabi terdahulu sejak diciptakannya Adam sampai sekarang umat Nabi Muhammad Saw yang keasliannya akan tetap terjaga. Bahkan al-Qur’an juga memberi informasi terhadap kejadian-kejadian yang bakal terjadi, misalnya kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia pada masa sekitar  sembilan ratus tahun sebelum peristiwa tersebut terjadi. Juga cerita tentang datangnya seekor binatang yang dapat bercakap-cakap menjelang hari kiamat, firman Allah Swt; dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami. (Qs. Al-Naml: 82).
Al-Qur’an sebagai kitab samawi terakhir yang diberikan kepada Nabi Muhammad Saw sebagai penuntun dalam rangka pembinaan umatnya sangtlah fenomenal. Lantaran didalamnya sarat nilai-nilai yang unik, pelik dan rumit sekaligus luarbiasa. Hal ini lebih disebabkan karena eksistensinya yang tidak hanya sebagai ajaran keagaman saja, melainkan ajaran kehidupan yang mencakup total tata nilai semenjak hulu peradaban umat manusia hingga hilirnya.
Diantara nilai-nilai tersebut adalah pada aspek kebahasaannya, isyarat-isyarat ilmiah dan muatan hukum yang terkandung didalamnya, saking pelik, unik, rumit dan keluarbiasaannya tak pelak ia menjadi objek kajian dari berbagai sudutnya, yang darinya melahirkan ketakjuban bagi yang beriman dan cercaan bagi mereka yang ingkar.
Selain penjagaannya yang dijamin oleh Allah, nilai mukjizat itu juga terletak pada fhasahah dan balagahnya, keindahan susunan dan gaya bahasanya, serta isinya yang tiada bandingannya, m ustahil menusia dapat membuat susunan yang serupa dengan al-Qur’an, Allah sendiri telah menantang melalui kitab-Nya terhadap orang-orang atau Jin yang berupaya menandingi firman-Nya dengan mengatakan; kendatipun berkumpul Jin dan manusia untuk membuat yang serupa dengan al-Qur’an, mereka tidak akan dapat membuatnya, firman Allah; Katakanlah, sesungguhnya jika manusia dan Jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan al-Qur’an ini, niscaya tidak akan dapat membuatnya walaupun sebagian mereka membantu sebagian (yang lain). (Qs. Al-Isra: 88)
Beberapa kisah dari sirah Nabawiyah meriwayatkan keindahan susunan dan gaya bahasa al-Qur’an yang mampu menundukan para sastrawan kafir Arab, seperti dikisahkan dalam salah satu riwayat berikut; ketika beberapa para pemimpin Quraisy berkumpul merundingkan cara-cara menaklukkan Rasullullah mereka bersepakat mengutus Abul Walid, seorang sastrawan Arab yang hampir tak tertandingi diseluruh jaziarah Arab, untuk meminta Rasulullah meninggalkan dakwahnya. Tawaran yang diberkanpun tak main-main, Rasul akan diberi pangkat, harta, dan apapun yang dikehendakinya. Ketika menghadap Rasul, Abul Walid mendengar Rasulullah membacakan surat fushilat dari awal sampai akhir, yang diantaranya; Haa Mim, diturunkan dari Dzat yang Maharahman dan Rahim, kitan yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan membawa peringatan tetapi kebanyakan dari mereka berpaling maka mereka tidak mau mendengarkan hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang engkau seru kepaanya dan ditelinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami beerja (pula). (Qs. Fushilat: 1-5).
Mendengar ayat-ayat tersebut, Abul Walid tak mampu berkata, akal dan hatinya tertarik dan terpesona pada keindahan dan gaya bahasannya, ia termenung-menung, Akal dan hatinya membenarkan tetapi hawa nafsunya menolak. Abul Walid kembali kepada kaumnya tanpa mamupu berkata sepatah katapun dihadapan Rasulullah, kaumnya yang menunggu gelisah semakin gundah melihat wajah Abul Walid yang tak seperti biasanya. “apa hasil yang engkau bawa, wahai Abaul Walid? Mengapa engkau bermuaram? Abul Walid menjawab, “aku belum pernah mendengar kata-kata seindah itu seumur hidupku”. Itu bukan syair, bukansihir, dan bukan kata-kata ahli tenung. Sesungguhnya al-Qur’an itu bagaikan pohon yang daunnya rindang akarnya terhujam kedalam tanah, susunannya manis dan enak didengar, dan itu bukanlah kata-kata manusia.




[1]  Bedah masalah kontemporer II Ibadah dan Muamalah, Aam Amiruddin. Hal 5

senja

Dikala senja aku selalu mengintif dibalik tirai jendela,
Membuat aku gelisah dan bertanya,
Aku selalu mencari-cari alasan hanya untuk mendengar suaramu,
Setiap detik ku genggam erat tak pernah aku lepas menuggu balasan darimu,Terkikis oleh waktu, tiada tempat lagi untuk mencari,Kusiingsingkan lengan baju berusaha untuk berani,Tapi kenapa??Kau selalu tak peka denganku,Entah caraku yang salah ataukah dia yang hanya terdiam membisu,Dalam lingkaran-lingkaran dinding yang seakan memenjarakanku,Dan cicitan-cicitan tikus yang seolah menertawakanku,Dibawah tetesan hujan yang membasahi ruang kecilku tempat aku terdiam,Kutempelkan lengan kaku tak berdaging dikepalaku,Yang seolah mengajak aku berfikir,Bagaimana cara pesanku tersampai dengan indah.....
Ahh... Masa bodoh...
Bagaimanapun caranya yang penting pesanku bisa tersampai,,
Masa bodoh dia mau menganggapku apa dan seperti apa,,
Yang penting kini hanyalah aku sedikit temukan cahaya dalam kegelapan dinding yang memenjarakanku,
Setelah pesanku tersampai,
Karena kita hanyalah murid kehidupan dan pengalaman adalah qurikulumnya,,
Biarkan akau sedikit tersenyum bila kutemui wajahmu dalam tidur dan fikirku,,
Biarkan orang menganggapku gila, karena aku memang benar-benar gila,
Gila bukan karena. Harta,
Tapi gila karenamu,,
Hadi nurul hadi 18 november 2014