Sabtu, 10 Oktober 2015

Di padang mimpi rindu terhampar.
Asa hati tergoda kian terlantar
Merangkainya dalam keabadian samar
Di bawah pesona aurora langit yang nanar
Diri terbuang terlunta dan terbiar
Rona matanya penuh cahaya nan mempesona
Cuma skilas menjadi harap hampa
Karena disana tiada mengerti kegelisahan jiwa
Menanti ungkapan rasa yang bukan sebatas penghibur semata
Namun ketulusan hati tanpa ada dusta
Mengenggam setia mengikat penuh cinta
Sinaran cahaya rembulan terasa semu
Rona bintangpun tanpa kerlipan merayu
Semakin tenggelam diri dalam kegelisahan yang mencandu
Bagai terbelenggu sunyi sang awan menyelimut kelabu
Karena kerinduan hati tiada menemui ujung temu
Menyisakan keraguan akan akhir cerita rindu
Tenggelam semakin dalam menanti sebatas tunggu,
Tertipu hati dirundung pilu,
Hanya bayangan yang hadir menipu,
Kepalsuan menggangu tanpa ada jemu
Meninggalkan kesakitan hati merasuk kalbu


Dengkur dan mata mulai terpejam,
Kopi dalam cawanpun hanya tingggal menyisakan ampas,
Ocehan-ocehan syarat makna berpengetahuan masih semangat keluar,
Masih dalam dinding persegi 5x4 meter berdebu. Cawan, ocehan, dan entahlah...
Siap dipinggirku..?? Sontak kekagetan dengan nada tinggi
Ah biarlah... Jadikanlah ia hanya sebagai obat penenang rasa kantuk setiap masuk dalam dinding 5x4 meter..
Malam mulai disetubuhi siang.
Kokok, alrm berdering membangn..
Membangun setiap jiwa yg ingin bersetubuh dengan Tuhannya...
Dalam asma, ku eja atas nama cinta dan Do'a,
Tidurlah bersama, dalam lantun bait asmanya..
Ku sebut atas nama kerinduan yg membabi..

 Bekasi, 09_10_2015