SEDEKAH
TAK SELALU HARUS
HARTA
“Perumpamaan orang yang menginfakan
hartanya dijalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai,
pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia
kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui”. (QS. al-Baqarah:
261)
|
S
|
edekah seringkali di
anggap dalam bahasa sederhananya adalah memberikan sesuatu yang kita punya
kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan apapun dan biasanya sedekah itu
diberikan dari harta yang lebih.
Sedekah
membawa kita kedalam sebuah pemahaman bahwa memberi dan berbagi adalah suatu
hal yang dapat dicerma dengan logis dalam kehidupan. Dan prinsif ini dapat
diterima oleh semua orang tanpa kecuali.
Jika
kita berniat sedekah hanya sekedar untuk kepuasan hidup atau kepuasan
psikologis karena membantu sesama, ketahuilah sesungguhnya Islam mempunyai
sesuatu yang lebih daripada itu. Jika memberi hanya untuk kepuasan psikologis
saja, apalagi dengan keinginan untuk terkenal, hal itu sungguh sangat tidak
diperbolehkan oleh Islam. Seperti yang telah diketahui, sedekah itu tak selalu
harus dengan harta saja. Ternyata ladang sedekah itu begitu luas, tak hanya
sebatas harta saja.
Islam
bukanlah agama yang sempit, orang-orang tak berpunya (secara materi) pun bisa
bersedekah sama dengan mereka yang kaya. Lalu dengan apa kita bersedekah kalau
bukan dengan harta? Islam telah membuka celah sedemikian lebarnya bagi kita,
bahwa setiap apa yang kita kerjakan dengan niatan yang baik dan ikhlas tanpa
mengharapkan balasan apapun, maka itu juga merupakan shadaqah dan tentunya hal
itu akan dibalas oleh Allah Swt dengan berlipat ganda.
Mengenai
hal ini para sahabat Rasulullah Saw cemburu terhadap orang-orang kaya, bukan
cemburu karena mereka mempunyai harta yang lebih, melainkan mereka merasa
cemburu karena melihat orang-orang kaya bisa bersedekah, sedangkan mereka hanya
bisa gigit jari melihat diri sendiri tak bisa bersedekah dengan harta. Mereka
cemburu dengan adanya pahala bagi orang-orang yang bersedekah sedangkan mereka sendiri
tak bisa melaksanakan dan mendapatkanya.
Begitu
banyak amalan-amalan yang dikategorikan sedekah dalam ajaran Islam. Dan berikut
ini adalah sebagian dari amalan-amalan yang dikategorikan sebagai sedekah:
A. Senyum adalah sedekah
Rasulullah
Saw bersabda:
“Senyummu dihadapan temanmu adalah
shadaqah.”
(HR. Ibn Hibban)
Salah
satu akhlaq Rasulullah Saw yang paling mempesona adalah senyum. Wajah beliau
senantiasa selalu cerah, ceria dan tersenyum, hingga orang yang melihatnya akan
terpesona dan merasa senang bila berdekatan dengan beliau. Ternyata senyum
dengan tulus juga bernilaikan ibadah dihadapan Allah Swt, dengan sebuah
senyuman orang akan merasa senang bila melihatnya.
Rasulullah
Saw bersabda:
“Janganlah kalian menganggap remeh satu
kebaikanpun. Jika ia tidak mendapatkannya, maka hendaklah ia ketika menemui
saudaranya, ia menemuinya dengan wajah ramah, dan jika engkau membeli daging
atau memasak daging, atau memasak dengan periuk/kuali, maka perbanyaklah
kuahnya dan berikanlah pada tetanggamu dari padanya.” (HR. Tirmidzi)
Biasakanlah
diri ini untuk selalu tersenyum dari sekarang. Dengan membiasakan diri untuk
tersenyum kita akan terhindar atau setidaknya berlatih untuk meminilisasi
kemarahan. Mulailah dari yang sederhana itu, rasakanlah pengaruh dan
manfa’atnya terhadap diri sendiri dan juga orang lain. Dengan senyuman kita
akan membuka diri terhadap dunia luar.
Senyum
diwaktu suka tanda kesukaran.
Senyum
itu sedekah yang paling murah.[1]
B. Amalan sehari-hari adalah sedekah
Begitu
banyak amalan dalam kehidupan sehari-hari yang bisa tergolong kedalam sedekah.
Seperti halnya menyingkirkan duri di jalanan, tersenyum kepada orang lain,
membantu melepaskan kesulitan orang lain, meskipun itu kecil dimata kita,
bahkan berbagi ilmu pun bisa merupakan sedekah. Itu adalah bentuk keluwesan dan
kefleksibelan yang diberikan Allah Swt kepada kita.
Mulailah
untuk melakukan amalan harian yang teratur dan menjadi unggulan sesuai dengan
kondisi dan kemampuan kita. Amalan harian ini dapat berupa apa saja. Seperti:
Shalat, puasa, dzikir, membantu orang lain, atau minimalnya tidak membuat orang
lain susah. Amalan-amalan kecil dapat dilakukan secara terus menerus dan dapat
menjadikan charging spirit dan menjaga kita dari perbuatan buruk disamping
mendapat pahala dari Allah Swt.
“diriwayatkan dari Abu Musa r.a., bahwa
Nabi Saw pernah bersabda, ‘setiap Muslim harus bersedekah.’ Para sahabat
bertanya, ‘wahai Nabi! Bagaimana jika tidak memiliki sesuatu untuk
disedekahkan?’ Rasulullah Saw menjawab,’ bekerjalah, kemudian hasilnya untuk
diri sendiri dan bersedekah.’ Mereka bertanya lagi bagaimana jika tidak mampu
bekerja?’ berikanlah pertolongan kepada orang yang membutuhkan pertolongan.’
Mereka bertanya lagi,’ bagaimana jika itupun tak mampu dilakukan?’ kerjakanlah
kebaikan dan hindarilah kejelekan, maka demikian itu bagi Muslim benilai sama
dengan sedekah.” (HR.
Bukhari).
C. Mendamaikan orang yang berselisih
adalah sedekah
“Sesungguhnya, orang-orang Mukmin itu
bersaudara, karena itu damaikanlah diantara kedua saudaramu (yang berselisih)
dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. al-Hujurât: 10)
Salah
satu nikmat Allah yang dianugrahkan kepada kaum Muslimin dan tidak diberikan
kepada kaum yang lain adalah persaudaraan. Dalam Islam, semua orang bersaudara,
baik mereka yang mempunyai hubungan kekerabatan maupun yang tidak. Saking besarnya nikmat persaudaraan, Allah
memberikan pahala bersedekah kepada orang yang menyambung tali persaudaraan
yang telah diputuskan, maupun yang bertindak sebagai mediator atau penghubung
orang yang memutuskan hubungan persaudaraan. Allah sangat membenci orang yang
memutuskan hubungan silaturahim dan menyukai orang yang menghubungkan
silaturahim.
Bagi
mereka yang bertindak sebagai mediator bagi orang lain, alangkah besar pahala
yang Allah berikan. Banyak kasus yang berada disekitar kita; perselisihan
antara teman, saudara, kerabat, bahkan suami istri, tidak banyak orang yang
bisa memainkan peran pendamai antara manusia karena diperlukan keahlian dalam
menyentuh hati orang yang bersangkutan, apalagi disaat hati orang tersebut
sedang keras.
Maka, jika ada kesempatan untuk menyambungkan
hubungan antara dua orang bersaudara, rebutlah! Sesungguhnya pahala sedang
menanti, pahala sedekah.
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya
pada tali (agama Allah), dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat
Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah
mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara,
sedangkan (ketika itu) kamu berada ditepi jurang neraka, lalu Allah
menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya
kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. ali ‘Imran: 103)
D. Mencegah kebatilan adalah sedekah
Mencegah
kebatilan bukanlah suatu hal yang mudah seperti menyeru pada kebenaran. Banyak
orang yang siap menyerukan kebenaran, tetapi tidak banyak orang yang siap untuk
mencegah kebatilan. Sebab itulah, Rasulullah Saw pernah bersabda bahwa jihad
yang paling berat adalah mengatakan kebenaran didepan penguasa. Bentuk mencegah
kebatilan tidaklah sempit. Berjihad tidak semata berperang saja. Mencegah
kebatilan dapat dilakukan dengan melerai perselisihan di antara dua orang yang
berselisih, mengingatkan akan perbuatan korupsi yang dilakukan oleh seseorang,
dan hal itu juga dinamakan mencegah kebatilan.
“Dan hendaklah diantara kamu ada
segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang ma’ruf,
dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itu-lah orang-orang yang beruntung.” (QS. ali ‘Imran:
104).