Senin, 13 Januari 2014

SEDEKAH TAK SELALU HARUS HARTA


SEDEKAH TAK SELALU HARUS
 HARTA

“Perumpamaan orang yang menginfakan hartanya dijalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui”. (QS. al-Baqarah: 261)
S
edekah seringkali di anggap dalam bahasa sederhananya adalah memberikan sesuatu yang kita punya kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan apapun dan biasanya sedekah itu diberikan dari harta yang lebih.
Sedekah membawa kita kedalam sebuah pemahaman bahwa memberi dan berbagi adalah suatu hal yang dapat dicerma dengan logis dalam kehidupan. Dan prinsif ini dapat diterima oleh semua orang tanpa kecuali.
Jika kita berniat sedekah hanya sekedar untuk kepuasan hidup atau kepuasan psikologis karena membantu sesama, ketahuilah sesungguhnya Islam mempunyai sesuatu yang lebih daripada itu. Jika memberi hanya untuk kepuasan psikologis saja, apalagi dengan keinginan untuk terkenal, hal itu sungguh sangat tidak diperbolehkan oleh Islam. Seperti yang telah diketahui, sedekah itu tak selalu harus dengan harta saja. Ternyata ladang sedekah itu begitu luas, tak hanya sebatas harta saja.
Islam bukanlah agama yang sempit, orang-orang tak berpunya (secara materi) pun bisa bersedekah sama dengan mereka yang kaya. Lalu dengan apa kita bersedekah kalau bukan dengan harta? Islam telah membuka celah sedemikian lebarnya bagi kita, bahwa setiap apa yang kita kerjakan dengan niatan yang baik dan ikhlas tanpa mengharapkan balasan apapun, maka itu juga merupakan shadaqah dan tentunya hal itu akan dibalas oleh Allah Swt dengan berlipat ganda.
Mengenai hal ini para sahabat Rasulullah Saw cemburu terhadap orang-orang kaya, bukan cemburu karena mereka mempunyai harta yang lebih, melainkan mereka merasa cemburu karena melihat orang-orang kaya bisa bersedekah, sedangkan mereka hanya bisa gigit jari melihat diri sendiri tak bisa bersedekah dengan harta. Mereka cemburu dengan adanya pahala bagi orang-orang yang bersedekah sedangkan mereka sendiri tak bisa melaksanakan dan mendapatkanya.
Begitu banyak amalan-amalan yang dikategorikan sedekah dalam ajaran Islam. Dan berikut ini adalah sebagian dari amalan-amalan yang dikategorikan sebagai sedekah:
A.     Senyum adalah sedekah
Rasulullah Saw bersabda:
“Senyummu dihadapan temanmu adalah shadaqah.” (HR. Ibn Hibban)
Salah satu akhlaq Rasulullah Saw yang paling mempesona adalah senyum. Wajah beliau senantiasa selalu cerah, ceria dan tersenyum, hingga orang yang melihatnya akan terpesona dan merasa senang bila berdekatan dengan beliau. Ternyata senyum dengan tulus juga bernilaikan ibadah dihadapan Allah Swt, dengan sebuah senyuman orang akan merasa senang bila melihatnya.
Rasulullah Saw bersabda:
“Janganlah kalian menganggap remeh satu kebaikanpun. Jika ia tidak mendapatkannya, maka hendaklah ia ketika menemui saudaranya, ia menemuinya dengan wajah ramah, dan jika engkau membeli daging atau memasak daging, atau memasak dengan periuk/kuali, maka perbanyaklah kuahnya dan berikanlah pada tetanggamu dari padanya.” (HR. Tirmidzi)
Biasakanlah diri ini untuk selalu tersenyum dari sekarang. Dengan membiasakan diri untuk tersenyum kita akan terhindar atau setidaknya berlatih untuk meminilisasi kemarahan. Mulailah dari yang sederhana itu, rasakanlah pengaruh dan manfa’atnya terhadap diri sendiri dan juga orang lain. Dengan senyuman kita akan membuka diri terhadap dunia luar.
Senyum diwaktu susah tanda keikhlasan.
Senyum diwaktu suka tanda kesukaran.
Senyum itu sedekah yang paling murah.[1]

B.     Amalan sehari-hari adalah sedekah
Begitu banyak amalan dalam kehidupan sehari-hari yang bisa tergolong kedalam sedekah. Seperti halnya menyingkirkan duri di jalanan, tersenyum kepada orang lain, membantu melepaskan kesulitan orang lain, meskipun itu kecil dimata kita, bahkan berbagi ilmu pun bisa merupakan sedekah. Itu adalah bentuk keluwesan dan kefleksibelan yang diberikan Allah Swt kepada kita.
Mulailah untuk melakukan amalan harian yang teratur dan menjadi unggulan sesuai dengan kondisi dan kemampuan kita. Amalan harian ini dapat berupa apa saja. Seperti: Shalat, puasa, dzikir, membantu orang lain, atau minimalnya tidak membuat orang lain susah. Amalan-amalan kecil dapat dilakukan secara terus menerus dan dapat menjadikan charging spirit dan menjaga kita dari perbuatan buruk disamping mendapat pahala dari Allah Swt.
“diriwayatkan dari Abu Musa r.a., bahwa Nabi Saw pernah bersabda, ‘setiap Muslim harus bersedekah.’ Para sahabat bertanya, ‘wahai Nabi! Bagaimana jika tidak memiliki sesuatu untuk disedekahkan?’ Rasulullah Saw menjawab,’ bekerjalah, kemudian hasilnya untuk diri sendiri dan bersedekah.’ Mereka bertanya lagi bagaimana jika tidak mampu bekerja?’ berikanlah pertolongan kepada orang yang membutuhkan pertolongan.’ Mereka bertanya lagi,’ bagaimana jika itupun tak mampu dilakukan?’ kerjakanlah kebaikan dan hindarilah kejelekan, maka demikian itu bagi Muslim benilai sama dengan sedekah.” (HR. Bukhari).
C.     Mendamaikan orang yang berselisih adalah sedekah
“Sesungguhnya, orang-orang Mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah diantara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. al-Hujurât: 10) 
Salah satu nikmat Allah yang dianugrahkan kepada kaum Muslimin dan tidak diberikan kepada kaum yang lain adalah persaudaraan. Dalam Islam, semua orang bersaudara, baik mereka yang mempunyai hubungan kekerabatan maupun yang tidak.  Saking besarnya nikmat persaudaraan, Allah memberikan pahala bersedekah kepada orang yang menyambung tali persaudaraan yang telah diputuskan, maupun yang bertindak sebagai mediator atau penghubung orang yang memutuskan hubungan persaudaraan. Allah sangat membenci orang yang memutuskan hubungan silaturahim dan menyukai orang yang menghubungkan silaturahim.
Bagi mereka yang bertindak sebagai mediator bagi orang lain, alangkah besar pahala yang Allah berikan. Banyak kasus yang berada disekitar kita; perselisihan antara teman, saudara, kerabat, bahkan suami istri, tidak banyak orang yang bisa memainkan peran pendamai antara manusia karena diperlukan keahlian dalam menyentuh hati orang yang bersangkutan, apalagi disaat hati orang tersebut sedang keras.
 Maka, jika ada kesempatan untuk menyambungkan hubungan antara dua orang bersaudara, rebutlah! Sesungguhnya pahala sedang menanti, pahala sedekah.
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama Allah), dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada ditepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. ali ‘Imran: 103)
D.    Mencegah kebatilan adalah sedekah
Mencegah kebatilan bukanlah suatu hal yang mudah seperti menyeru pada kebenaran. Banyak orang yang siap menyerukan kebenaran, tetapi tidak banyak orang yang siap untuk mencegah kebatilan. Sebab itulah, Rasulullah Saw pernah bersabda bahwa jihad yang paling berat adalah mengatakan kebenaran didepan penguasa. Bentuk mencegah kebatilan tidaklah sempit. Berjihad tidak semata berperang saja. Mencegah kebatilan dapat dilakukan dengan melerai perselisihan di antara dua orang yang berselisih, mengingatkan akan perbuatan korupsi yang dilakukan oleh seseorang, dan hal itu juga dinamakan mencegah kebatilan.
“Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itu-lah orang-orang yang beruntung.” (QS. ali ‘Imran: 104).



[1] Nasyid Raihan