Selasa, 06 Januari 2015

Menegakan Nilai-nilai Ajaran Al-Qur’an dalam Kehidupan Modern di Indonesia


Kitab suci al-Qur’an secara amat jelas mempermaklumkan bahwa islam adalah agama yang mendapat perkenan Tuhan. Bahkan lebih jauh lagi kitab suci ini mempertanyakan: “apakah mereka masih mencari agama yang lain dari agama Allah padahal kepada-Nyalah menyerahkan diri segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.” (Qs Ali-imran: Samap disini yang mejadi masalah adalah, kalau agama ini mendapat perkenan dari Allah SWT, apakah ia juga akan bisa mendapat perkenan dan diterima manusia yang hidup pada masa yang disebut sebagai pascamodern (post modern). Untuk meruntutkan jalur analisis, berikut dikedepankan dua isu yang pernah menggetarkan dunia, khususnya masa depan kehidupan beragama, yang berkembang tahun 1992-1994. Pertama, dengan runtuhnya Uni Soviet, dunia mencari ‘kambing hitam’, yang secara sederhana dapat dirumuskan dalam pertanyaan, “siapakah lagi kira-kira yang bisa dilaga oleh Barat?” Disisni sering kali sebagian orang berpendapat bahwa yang paling empuk dan potensial untuk dilaga oleh Barat adalah islam (Fundamentalis). Hal semacam ini membuat sebagian uamat beragama seringkali incompatoble (salah pendirian). Kedua, umat beragama boleh bangga, memang gelagat dunia menunjukan bahwa agama akan semakin berperan penting dimasa depan. Sebab dengan perkembangan demografi serta revolusi teknologi informasi dan informatika, maka agama bagaikan dalam dua bisnis kini memasuki pasaran internasional.
Berkenaan dengan revalitas agama untuk masa depan itu, satu hal menarik untuk diamati, khususnya bagi masyarakat Indonesia adalah posisi Departemen Agama. Sikap indonesia terhadap agama secara amat jelas diatur dalam UUD 1945 pada pasal 29 ayat 2: “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agama dan kepercayaan itu.” Pada sisi lain dapat pula dilihat umpamanya dalam berbagai pernyataaan para pejabat resmi negara, yaitu bahwa Indonesia yang berdasarkan pancasila dan UUD 1945 bukanlah negara sekuler, dan bukan pula negara agama. Akan tetapi negara kita bersikap positif dan pro terhadap semua agama yang diakuinya (bukan salah satunya).
pada sisi lain, dan tentu yang lebih monumental, sikap positif sikap positif bangsa ini terhadap semua agama adalah lahirnya Departemen Agama tanggal 3 januari 1946, sebagai suatu lembaga negara yang bertugas melaksanakan setiap kebijaksanaan pemerintah dalam bidang agama dari kelima agama; Islam,Katolik, Kristen Protestan, Hindu, dan Budha.
Tugas pokok departemen ini adalah menyelenggarakan sebagian dari tugas umum pemerintah dan pembangunan di bidang agama. Alangkah penting dan mulianya tugas ini, dan tampaknyaa semua orang mengetahuinya. Namun, sampai di sini kita harus berhenti sejenak untuk bertanya  kembali pada diri sendiri, sebab tidak semua orang menyadari apa hakikat dari tugas itu apalagi implikasinya dalam berbagai aspek kehidupan dalam arti yang seluas-luasnya. Dua penyataan ini saling  menyempurnakan. Kalau pernyataan pertama melukiskan betapa pentingnya tugas departemen ini, sebab menyangkut kepentinga mutlak (problem of ultimate concern) segenap bangsa dan menyangkut ketuhanan sebagai nafas dari dasar filosofi bangsa ini pernyataan kedua menyoroti pentingnya ketauladanan segenap aparatnya. Ketauladanan barisan ptih-putih ini memang amat dibutuhkan, sebab kebenaran suatu agama  tidak dapat dipahami melalui pormula-pormula abstrak tentang kepercayaan dan nilainya saja, melainkan kebenarannya harus tampak pada kenyataan kehidupan penganutnya sehari-hari, terutama para pemukanya. Oleh karenanya barisan putih-putih (aparat Departemen Agama) kiranya perlu menyadari sedalam-dalamnya, bahwa masyarakat modern sangat mendambakan adanya ‘komunitas tauladan’ beragama dalam berbagai aspek kehidupan. Masyarakat membutuhkan tauladan dalam membaca dan mengantisipasi perubahan sosial. Namun, apabila kita berbicara peranan  agama masalah yang segera muncul adalah kaitan organik dan pungsional yang bersifat normatif, dan hal ini seringkali menyebabkan nilai-nilai agama yang bersifat motivatif dan inspiratif tidak mampu digali dan dikuak oleh para pemeluknya, jika bukan pemukanya. Realitas keagamaan ini menyebabkan agama menghadapi dua masalah.
Pada satu sisi, agama dipanggil untuk memberikan rasa aman atas persoalan manusia, tetapi pada pihak lain agama dihadapkan pada persoalan mencari jalan keluar dari struktur yang semakin mencekam. Kedua masalah yang sangat dilematis ini merupakan tantangan agama dalam proses perubahan sosial yang luar biasa cepatnya. Agar  berhasil dengan gemilang melewati keadaan yang sedemikian dilematis, dan agar dapat mengantisipasi persoalan masa depan mereka, umat beragama tampaknya mengharapkan adanya ikutan (Imam) dan panutan (uswatun hasanah) ditengah-tengah mereka, siapakah yang diharapkan sebagai panutan itu? Tanpa ragu-ragu kita dapat berkata bahwa yang paling potensial adalah ‘barisan putih-putih’, aparat Departemen agama.
 Negara kita mengakui secara resmi lima agama besar yang dianut penduduknya. Lewat UUD 1945 telah dijamin kebebasan mereka melaksanakan ajaran agamanya masing-masing. Namun, harus kita akui masih sering terjadi  ‘riak-riak’ yang mengganggu keharmonisan umat beragama itu. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya kesadaran pemeluk agama tentang titik temu  agama-agama yang ada. Kerukunan beragama dipandang sebagai sangat politis dan hanya program pemrintah. Melihat keadaan ini, disamping usaha-usaha yang ada, kita perlu mencari usaha lain yang lebih mendasar untuk menciptakan kerukunan yang lebih harmonis di masa depan.  Usaha-usaha ini ternyata sering ditanggapi umat beragama secara simplistik dengan menganggapnya sebagai usaha untuk memandang semua agama itu sama. Kita lihat bagaimana buku Harun nasution islam ditinjau dari berbagai aspeknya itu mendapat kritikan emosional dari sebagian besar umat bergama. Sementara makalah nurkholis majid beberapa renungan tentang kehidupan keagamaan di Indonesia untuk generasi mendatang yang disampaikan TIM 21 Oktober 1992 itu juga mendapat reaksi keras dari sebagian besar pemelik agama, padahal isi makalah itu khususnya menyangkut titik temu agama-agama telah dimuat prisma no. 9 tahun 1986, hlm. 41-42 dengan judul ‘meninggalkan kemutlakan jalan menuju perdamaian’. Terhadap tanggapan-tanggapan simplistik itu teringat pada statemen Max Muller yang mengatakan bahwa orang yang hanya mengetahui satu agama (agama sendiri) sebetulnya tidak mengetahui apa-apa.
Kalau  kita menyebut beberapa kecenderungan baru kebangkitan Islam dan keberagaman di indonesia pada dekade terakhir ini, maka akan ditemukan tiga hal yang paling menonjol, pertama, munculnya keinginan setiap umat Islam untuk meresponsi era pembangunan bangsa secara lebih kreatif dan bermanfaat dengan semangat keislaman dan keindonesiaan. Kedua, munculnya kesadaran yang kian lama semakin mengental dan semakin meluas mengenai perlunya pemahaman islam yang baru secara lebih intelektual dan rasional. Ketiga, munculnya keinginan agar responsi dan pemahaman Islam yang baru itu tetap tidak melupakan jati dirinya sebagai manusia yang berbudaya Indonesia. Ketiga kecenderungan itu kelihatanya mengacu pada cita-cita bersama, yaitu agar umat Islam di masa-masa yang akan datang bisa lebih maju dan berkembanng dari sekaranng, dan untuk mencapai kemajuann itu , cara yang lebih tepat dan efektif adalah memberi sumbangan berupa partisipasi dam arti yang seluas-luasnya yang semakin maksimal dan terbaik bagi pembangunan bangsa di masa mendatang.
Jika berbicara mengenai agama yang akan berperan besar di masa depan (post modern), mata dunia nampaknya menoleh pada islam. Ini kenyataan, dan tentunya kurang fair jika diklaim hanya sebagai sikap apologetis pedukung agama ini. Namun, sampai disini, memang kata kunci yang perlu diperhatikan adalah, kesanggupan dan kearifan. Kesanggupan artinya, sangat tergantung pada kesanggupan umatnya untuk mendaratkan kesempurnaan ajaran agama ini pada dataran kehidupan, bukan hanya dalam konsep dan ucapan. Sedangkan kearifan maksudnya sejauh mana kearifan mereka untuk membumikan aspek paling dinamis, humanis, dan kosmopolit dari ajaran agamanya, demi kebaikan untuk bersama.
Memasuki keadaan dunia yang semakin mengglobal, abad duapuluh satu dan seterusnya, kelihatanya masyarakat Indonesia menghadapi tiga tantangan utama, yaitu tantangan kependudukan, tantangan lingkunhgan, dan tantangan pembangunan. Untuk menjawab ketiga tantangan itu, kata kunci kata kunci yang erlu dipegang adalah ‘peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia’, dan karena mayoritas masyarakat Indonesia bergama Islam, maka pembinaan kualitas manusia Indonesia itu, kiranya pantas didasarkan pada nilai-nilai ajaran agama Islam yang kosmopolit (rahmatal lil ‘alamin).
Secara garis besar kualitas manusia Indonesia dapat dikelompokan kepada dua bagian. Pertama, kualitas fisik, yang menyangkut ciri-ciri kualitas yang bersifat lahiriyah atau badaniyah, seperti ukuran dan bentuk badan, daya atau tenaga fisik yang dimilikinya, kesegaran jasmani, kesehatan jasmani dan lain-lain ini. Ini semua merupakan kualitas pribadi yang melekat pada diri seseorang. Kedua, kualitas nonfisik, menyangkut kualitas yang bersifat batiniyah, yang meliputi (1) kualitas pribadi yang melekat pada diri, (2) kualitas hubungnan dengan pihak lain, seperti Tuhan, lingkungan masyarakat, dan manusia lain, (3) kualitas kekaryaan yang tercermin dalam produktivitas, disiplin, keswadayaan, keswakaryaan, dan wawasan masa depan. Dari pengelompokan ini dapat dirumuskan bahwa manusia berkualitas adalah manusia yang memilki ciri-ciri berikiut:
1.     Memiliki iman dan taqwa, serta moralitas.
2.    Memiliki tanggung jawab pribadi dan jujur.
3.    Memiliki fisik atau jasmaniyah yang sehat.
4.    Menghargai ketepatan waktu.
5.    Memiki etos kerja yang tinggi.
6.    Memiliki visi yang jelas mengenai masa depannya.
7.    Menghargai dan  memiliki ilmu pengetahuan.

Rumusan tentang manusia berkualitas disini identik dengan manusia modern, dan pengembangan sumber daya manusi Indonesia tampaknya memang absah jika diarahkan pada terwujudnya manusia Indonesia yang modern dan berkualitas, yang dalam terminologi pembangunan dirumuskan sebagai manusia seutuhnya. 

SEPUTAR AL-QUR’AN


Pengertian al-Qur’an secara lengkap dikemukakan oleh Abd Al-wahhab Al-khalaf menurutnya “al-Qur’an adalah firman Allah Swt yang diturunan kepada Rasulullah Saw, melalui Jibri dengan menggunakan lafadz bahasa arab, menjadi undang-undang bagi manusia, memberi petunjuk kepada mereka, dan menjadi sarana untuk melakukan pendekatan diri dan ibadah kepada Allah swt. Ia terhimpun dalam mushaf dimulai dari surat al-fatihah dan diakhiri dengan surat al-Nas, disampaikan kepada kita secara mutawattir dari generasi kegenerasi, baik secara lisan maupun tulisan, serta terjaga dari perubahan dan pergantian.”[1]
Al-Qur’an merupakan kitab yang sangat menakjubkan, mengagumkan kemudian orsinilitas dan kualitasnya akan tetap terjaga sampai kapanpun, al-Quran berisi narasi dan rekaman-rekaman dan cerita nabi-nabi terdahulu sejak diciptakannya Adam sampai sekarang umat Nabi Muhammad Saw yang keasliannya akan tetap terjaga. Bahkan al-Qur’an juga memberi informasi terhadap kejadian-kejadian yang bakal terjadi, misalnya kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia pada masa sekitar  sembilan ratus tahun sebelum peristiwa tersebut terjadi. Juga cerita tentang datangnya seekor binatang yang dapat bercakap-cakap menjelang hari kiamat, firman Allah Swt; dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami. (Qs. Al-Naml: 82).
Al-Qur’an sebagai kitab samawi terakhir yang diberikan kepada Nabi Muhammad Saw sebagai penuntun dalam rangka pembinaan umatnya sangtlah fenomenal. Lantaran didalamnya sarat nilai-nilai yang unik, pelik dan rumit sekaligus luarbiasa. Hal ini lebih disebabkan karena eksistensinya yang tidak hanya sebagai ajaran keagaman saja, melainkan ajaran kehidupan yang mencakup total tata nilai semenjak hulu peradaban umat manusia hingga hilirnya.
Diantara nilai-nilai tersebut adalah pada aspek kebahasaannya, isyarat-isyarat ilmiah dan muatan hukum yang terkandung didalamnya, saking pelik, unik, rumit dan keluarbiasaannya tak pelak ia menjadi objek kajian dari berbagai sudutnya, yang darinya melahirkan ketakjuban bagi yang beriman dan cercaan bagi mereka yang ingkar.
Selain penjagaannya yang dijamin oleh Allah, nilai mukjizat itu juga terletak pada fhasahah dan balagahnya, keindahan susunan dan gaya bahasanya, serta isinya yang tiada bandingannya, m ustahil menusia dapat membuat susunan yang serupa dengan al-Qur’an, Allah sendiri telah menantang melalui kitab-Nya terhadap orang-orang atau Jin yang berupaya menandingi firman-Nya dengan mengatakan; kendatipun berkumpul Jin dan manusia untuk membuat yang serupa dengan al-Qur’an, mereka tidak akan dapat membuatnya, firman Allah; Katakanlah, sesungguhnya jika manusia dan Jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan al-Qur’an ini, niscaya tidak akan dapat membuatnya walaupun sebagian mereka membantu sebagian (yang lain). (Qs. Al-Isra: 88)
Beberapa kisah dari sirah Nabawiyah meriwayatkan keindahan susunan dan gaya bahasa al-Qur’an yang mampu menundukan para sastrawan kafir Arab, seperti dikisahkan dalam salah satu riwayat berikut; ketika beberapa para pemimpin Quraisy berkumpul merundingkan cara-cara menaklukkan Rasullullah mereka bersepakat mengutus Abul Walid, seorang sastrawan Arab yang hampir tak tertandingi diseluruh jaziarah Arab, untuk meminta Rasulullah meninggalkan dakwahnya. Tawaran yang diberkanpun tak main-main, Rasul akan diberi pangkat, harta, dan apapun yang dikehendakinya. Ketika menghadap Rasul, Abul Walid mendengar Rasulullah membacakan surat fushilat dari awal sampai akhir, yang diantaranya; Haa Mim, diturunkan dari Dzat yang Maharahman dan Rahim, kitan yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan membawa peringatan tetapi kebanyakan dari mereka berpaling maka mereka tidak mau mendengarkan hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang engkau seru kepaanya dan ditelinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami beerja (pula). (Qs. Fushilat: 1-5).
Mendengar ayat-ayat tersebut, Abul Walid tak mampu berkata, akal dan hatinya tertarik dan terpesona pada keindahan dan gaya bahasannya, ia termenung-menung, Akal dan hatinya membenarkan tetapi hawa nafsunya menolak. Abul Walid kembali kepada kaumnya tanpa mamupu berkata sepatah katapun dihadapan Rasulullah, kaumnya yang menunggu gelisah semakin gundah melihat wajah Abul Walid yang tak seperti biasanya. “apa hasil yang engkau bawa, wahai Abaul Walid? Mengapa engkau bermuaram? Abul Walid menjawab, “aku belum pernah mendengar kata-kata seindah itu seumur hidupku”. Itu bukan syair, bukansihir, dan bukan kata-kata ahli tenung. Sesungguhnya al-Qur’an itu bagaikan pohon yang daunnya rindang akarnya terhujam kedalam tanah, susunannya manis dan enak didengar, dan itu bukanlah kata-kata manusia.




[1]  Bedah masalah kontemporer II Ibadah dan Muamalah, Aam Amiruddin. Hal 5

senja

Dikala senja aku selalu mengintif dibalik tirai jendela,
Membuat aku gelisah dan bertanya,
Aku selalu mencari-cari alasan hanya untuk mendengar suaramu,
Setiap detik ku genggam erat tak pernah aku lepas menuggu balasan darimu,Terkikis oleh waktu, tiada tempat lagi untuk mencari,Kusiingsingkan lengan baju berusaha untuk berani,Tapi kenapa??Kau selalu tak peka denganku,Entah caraku yang salah ataukah dia yang hanya terdiam membisu,Dalam lingkaran-lingkaran dinding yang seakan memenjarakanku,Dan cicitan-cicitan tikus yang seolah menertawakanku,Dibawah tetesan hujan yang membasahi ruang kecilku tempat aku terdiam,Kutempelkan lengan kaku tak berdaging dikepalaku,Yang seolah mengajak aku berfikir,Bagaimana cara pesanku tersampai dengan indah.....
Ahh... Masa bodoh...
Bagaimanapun caranya yang penting pesanku bisa tersampai,,
Masa bodoh dia mau menganggapku apa dan seperti apa,,
Yang penting kini hanyalah aku sedikit temukan cahaya dalam kegelapan dinding yang memenjarakanku,
Setelah pesanku tersampai,
Karena kita hanyalah murid kehidupan dan pengalaman adalah qurikulumnya,,
Biarkan akau sedikit tersenyum bila kutemui wajahmu dalam tidur dan fikirku,,
Biarkan orang menganggapku gila, karena aku memang benar-benar gila,
Gila bukan karena. Harta,
Tapi gila karenamu,,
Hadi nurul hadi 18 november 2014