Selasa, 06 Januari 2015

SEPUTAR AL-QUR’AN


Pengertian al-Qur’an secara lengkap dikemukakan oleh Abd Al-wahhab Al-khalaf menurutnya “al-Qur’an adalah firman Allah Swt yang diturunan kepada Rasulullah Saw, melalui Jibri dengan menggunakan lafadz bahasa arab, menjadi undang-undang bagi manusia, memberi petunjuk kepada mereka, dan menjadi sarana untuk melakukan pendekatan diri dan ibadah kepada Allah swt. Ia terhimpun dalam mushaf dimulai dari surat al-fatihah dan diakhiri dengan surat al-Nas, disampaikan kepada kita secara mutawattir dari generasi kegenerasi, baik secara lisan maupun tulisan, serta terjaga dari perubahan dan pergantian.”[1]
Al-Qur’an merupakan kitab yang sangat menakjubkan, mengagumkan kemudian orsinilitas dan kualitasnya akan tetap terjaga sampai kapanpun, al-Quran berisi narasi dan rekaman-rekaman dan cerita nabi-nabi terdahulu sejak diciptakannya Adam sampai sekarang umat Nabi Muhammad Saw yang keasliannya akan tetap terjaga. Bahkan al-Qur’an juga memberi informasi terhadap kejadian-kejadian yang bakal terjadi, misalnya kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia pada masa sekitar  sembilan ratus tahun sebelum peristiwa tersebut terjadi. Juga cerita tentang datangnya seekor binatang yang dapat bercakap-cakap menjelang hari kiamat, firman Allah Swt; dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami. (Qs. Al-Naml: 82).
Al-Qur’an sebagai kitab samawi terakhir yang diberikan kepada Nabi Muhammad Saw sebagai penuntun dalam rangka pembinaan umatnya sangtlah fenomenal. Lantaran didalamnya sarat nilai-nilai yang unik, pelik dan rumit sekaligus luarbiasa. Hal ini lebih disebabkan karena eksistensinya yang tidak hanya sebagai ajaran keagaman saja, melainkan ajaran kehidupan yang mencakup total tata nilai semenjak hulu peradaban umat manusia hingga hilirnya.
Diantara nilai-nilai tersebut adalah pada aspek kebahasaannya, isyarat-isyarat ilmiah dan muatan hukum yang terkandung didalamnya, saking pelik, unik, rumit dan keluarbiasaannya tak pelak ia menjadi objek kajian dari berbagai sudutnya, yang darinya melahirkan ketakjuban bagi yang beriman dan cercaan bagi mereka yang ingkar.
Selain penjagaannya yang dijamin oleh Allah, nilai mukjizat itu juga terletak pada fhasahah dan balagahnya, keindahan susunan dan gaya bahasanya, serta isinya yang tiada bandingannya, m ustahil menusia dapat membuat susunan yang serupa dengan al-Qur’an, Allah sendiri telah menantang melalui kitab-Nya terhadap orang-orang atau Jin yang berupaya menandingi firman-Nya dengan mengatakan; kendatipun berkumpul Jin dan manusia untuk membuat yang serupa dengan al-Qur’an, mereka tidak akan dapat membuatnya, firman Allah; Katakanlah, sesungguhnya jika manusia dan Jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan al-Qur’an ini, niscaya tidak akan dapat membuatnya walaupun sebagian mereka membantu sebagian (yang lain). (Qs. Al-Isra: 88)
Beberapa kisah dari sirah Nabawiyah meriwayatkan keindahan susunan dan gaya bahasa al-Qur’an yang mampu menundukan para sastrawan kafir Arab, seperti dikisahkan dalam salah satu riwayat berikut; ketika beberapa para pemimpin Quraisy berkumpul merundingkan cara-cara menaklukkan Rasullullah mereka bersepakat mengutus Abul Walid, seorang sastrawan Arab yang hampir tak tertandingi diseluruh jaziarah Arab, untuk meminta Rasulullah meninggalkan dakwahnya. Tawaran yang diberkanpun tak main-main, Rasul akan diberi pangkat, harta, dan apapun yang dikehendakinya. Ketika menghadap Rasul, Abul Walid mendengar Rasulullah membacakan surat fushilat dari awal sampai akhir, yang diantaranya; Haa Mim, diturunkan dari Dzat yang Maharahman dan Rahim, kitan yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan membawa peringatan tetapi kebanyakan dari mereka berpaling maka mereka tidak mau mendengarkan hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang engkau seru kepaanya dan ditelinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami beerja (pula). (Qs. Fushilat: 1-5).
Mendengar ayat-ayat tersebut, Abul Walid tak mampu berkata, akal dan hatinya tertarik dan terpesona pada keindahan dan gaya bahasannya, ia termenung-menung, Akal dan hatinya membenarkan tetapi hawa nafsunya menolak. Abul Walid kembali kepada kaumnya tanpa mamupu berkata sepatah katapun dihadapan Rasulullah, kaumnya yang menunggu gelisah semakin gundah melihat wajah Abul Walid yang tak seperti biasanya. “apa hasil yang engkau bawa, wahai Abaul Walid? Mengapa engkau bermuaram? Abul Walid menjawab, “aku belum pernah mendengar kata-kata seindah itu seumur hidupku”. Itu bukan syair, bukansihir, dan bukan kata-kata ahli tenung. Sesungguhnya al-Qur’an itu bagaikan pohon yang daunnya rindang akarnya terhujam kedalam tanah, susunannya manis dan enak didengar, dan itu bukanlah kata-kata manusia.




[1]  Bedah masalah kontemporer II Ibadah dan Muamalah, Aam Amiruddin. Hal 5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar