Pengertian
al-Qur’an secara lengkap dikemukakan oleh Abd Al-wahhab Al-khalaf menurutnya
“al-Qur’an adalah firman Allah Swt yang diturunan kepada Rasulullah Saw,
melalui Jibri dengan menggunakan lafadz bahasa arab, menjadi undang-undang bagi
manusia, memberi petunjuk kepada mereka, dan menjadi sarana untuk melakukan
pendekatan diri dan ibadah kepada Allah swt. Ia terhimpun dalam mushaf dimulai
dari surat al-fatihah dan diakhiri dengan surat al-Nas, disampaikan kepada kita
secara mutawattir dari generasi kegenerasi, baik secara lisan maupun tulisan,
serta terjaga dari perubahan dan pergantian.”[1]
Al-Qur’an
merupakan kitab yang sangat menakjubkan, mengagumkan kemudian orsinilitas dan
kualitasnya akan tetap terjaga sampai kapanpun, al-Quran berisi narasi dan
rekaman-rekaman dan cerita nabi-nabi terdahulu sejak diciptakannya Adam sampai
sekarang umat Nabi Muhammad Saw yang keasliannya akan tetap terjaga. Bahkan
al-Qur’an juga memberi informasi terhadap kejadian-kejadian yang bakal terjadi,
misalnya kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia pada masa sekitar sembilan ratus tahun sebelum peristiwa
tersebut terjadi. Juga cerita tentang datangnya seekor binatang yang dapat
bercakap-cakap menjelang hari kiamat, firman Allah Swt; dan apabila perkataan
telah jatuh atas mereka, kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang
akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin
kepada ayat-ayat Kami. (Qs. Al-Naml: 82).
Al-Qur’an
sebagai kitab samawi terakhir yang diberikan kepada Nabi Muhammad Saw sebagai
penuntun dalam rangka pembinaan umatnya sangtlah fenomenal. Lantaran didalamnya
sarat nilai-nilai yang unik, pelik dan rumit sekaligus luarbiasa. Hal ini lebih
disebabkan karena eksistensinya yang tidak hanya sebagai ajaran keagaman saja,
melainkan ajaran kehidupan yang mencakup total tata nilai semenjak hulu
peradaban umat manusia hingga hilirnya.
Diantara
nilai-nilai tersebut adalah pada aspek kebahasaannya, isyarat-isyarat ilmiah
dan muatan hukum yang terkandung didalamnya, saking pelik, unik, rumit dan
keluarbiasaannya tak pelak ia menjadi objek kajian dari berbagai sudutnya, yang
darinya melahirkan ketakjuban bagi yang beriman dan cercaan bagi mereka yang
ingkar.
Selain
penjagaannya yang dijamin oleh Allah, nilai mukjizat itu juga terletak pada
fhasahah dan balagahnya, keindahan susunan dan gaya bahasanya, serta isinya
yang tiada bandingannya, m ustahil menusia dapat membuat susunan yang serupa
dengan al-Qur’an, Allah sendiri telah menantang melalui kitab-Nya terhadap orang-orang
atau Jin yang berupaya menandingi firman-Nya dengan mengatakan; kendatipun
berkumpul Jin dan manusia untuk membuat yang serupa dengan al-Qur’an, mereka
tidak akan dapat membuatnya, firman Allah; Katakanlah, sesungguhnya jika
manusia dan Jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan al-Qur’an ini,
niscaya tidak akan dapat membuatnya walaupun sebagian mereka membantu sebagian
(yang lain). (Qs. Al-Isra: 88)
Beberapa
kisah dari sirah Nabawiyah meriwayatkan keindahan susunan dan gaya bahasa
al-Qur’an yang mampu menundukan para sastrawan kafir Arab, seperti dikisahkan
dalam salah satu riwayat berikut; ketika beberapa para pemimpin Quraisy
berkumpul merundingkan cara-cara menaklukkan Rasullullah mereka bersepakat
mengutus Abul Walid, seorang sastrawan Arab yang hampir tak tertandingi
diseluruh jaziarah Arab, untuk meminta Rasulullah meninggalkan dakwahnya.
Tawaran yang diberkanpun tak main-main, Rasul akan diberi pangkat, harta, dan
apapun yang dikehendakinya. Ketika menghadap Rasul, Abul Walid mendengar Rasulullah
membacakan surat fushilat dari awal sampai akhir, yang diantaranya; Haa Mim,
diturunkan dari Dzat yang Maharahman dan Rahim, kitan yang dijelaskan
ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa arab, untuk kaum yang mengetahui, yang
membawa berita gembira dan membawa peringatan tetapi kebanyakan dari mereka
berpaling maka mereka tidak mau mendengarkan hati kami berada dalam tutupan
(yang menutupi) apa yang engkau seru kepaanya dan ditelinga kami ada sumbatan
dan antara kami dan kamu ada dinding maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami
beerja (pula). (Qs. Fushilat: 1-5).
Mendengar
ayat-ayat tersebut, Abul Walid tak mampu berkata, akal dan hatinya tertarik dan
terpesona pada keindahan dan gaya bahasannya, ia termenung-menung, Akal dan
hatinya membenarkan tetapi hawa nafsunya menolak. Abul Walid kembali kepada
kaumnya tanpa mamupu berkata sepatah katapun dihadapan Rasulullah, kaumnya yang
menunggu gelisah semakin gundah melihat wajah Abul Walid yang tak seperti
biasanya. “apa hasil yang engkau bawa, wahai Abaul Walid? Mengapa engkau
bermuaram? Abul Walid menjawab, “aku belum pernah mendengar kata-kata seindah
itu seumur hidupku”. Itu bukan syair, bukansihir, dan bukan kata-kata ahli
tenung. Sesungguhnya al-Qur’an itu bagaikan pohon yang daunnya rindang akarnya terhujam
kedalam tanah, susunannya manis dan enak didengar, dan itu bukanlah kata-kata
manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar