Riak-riak
ombak menyeruakan gemuruh senja, bias-bias mega di ujung langit semakin
memperindah tatapan mata. Masih indah kupandang samudra senja dengan balutan
mega, aku duduk termenung dibibir pantai putih menghirup dan menghembus nafas,
sepintas mata ini terpejam, seakan berusaha merekah ulang masa indah yang telah
lama menjadi ingatan semu dalam batin dan meraga dalam, sampai ke ufuk jiwa
disebrang taman ruh hati ini. tanpa ku rasa seasana senja kian perlahan hilang
diganti dengan ribuan bintang hiasi sang langit, deruan ombak pun semakin liar
karena lautan mulai pasang.
Aku
membaringkan tubuhku dan memejam mata untuk meluruskan sendi-sendi tulang di
bibir pantai pasir putih, sekelabat muncul dalam ingatan semu, gadis yang aku
temui di desa sebrang, orang desa sering memanggilnya Meysa. Meysa adalah
seorang gadis yang anggun, polos, dan lugu, dibalik keluguan dan kepolosannya,
Meysa mempunyai mata sipit yang indah, berkulit putih langsat, hidung mancung,
bibir merah tipis merekah, rambut hitam panjang sampai ke punggung, alis yang
tipis dan dagu yang tirus.
Malam
pun tiba… tanpa kusadari wanita berbalut jilbab putih menghampiri dan menepuk
pundakku, kaki langkahnya tak bersuara bagai angina, wanita itu menyapa dan
menegurku,, hai.. sedang apa kamu disini sendiri?
Sontak
kekagetan menghampiri, aku langsung menoleh kebelakang terbangun dari
perebahan,, “ya” aku lagi duduk santai sembari menikmati udara pantai malam.”
Jawabku
“oh
ya?.” Tapi kenapa dari raut wajahmu ada hal yang sedang engkau pikirkan Nampak
jelas kegelisahan yang tergambarkan dari mata sayumu?.
“tak
ada apa-apa,, ini hanya ingatan semu masa lalu yang kembali muncul dalam
ingatan sempitku.” Jawabku.
Oh
begitu ya. Bolehkah aku tahu ingatan semu apakah yang engkau maksud? Tanya
wanita berbalut jilbab putih.
Dengan
terbata-bata aku menceritakan kisah pertemuan dengan gadis desa dua bulan lalu,
mempunyai mata sipit yang indah, berkulit putih langsat, hidung mancung, bibir
merah tipis merekah, rambut hitam panjang sampai ke punggung, alis yang tipis
dan dagu yang tirus dan senyumnya yang merekah bagai bunga mawar yang bru
mekar.
Benarkah
?? “dengan nada sedikit meninggi,, mungkin Tuhan belum menakdirkan kamu duduk
bersanding dengan gadis yang kau gambarkan tadi.” Jawab wanita berbalut jilbab
putih. Oke kalau begitu, aku pamit pulang, malam semakin larut, udara semakin
dingin, jangan terlalu malam dipantai, angina malam tak baik bagi kesehatan.
“Ya
terimakasih,, hati-hati dijalan”, jawabku
Aku
kembali merebahkan tubuhku dibibir pantai dan memejam mata kembali. Hati kecil
ini berkata..”kehidupan berbalut cinta biarlah ku eja atas nama do’a, ikhtiar
dan tawakal. Seikat dan segumpal harap rindu mendayu menuju kekal. Tak semudah
ku membalikkan telapak tanganku. Biarlah lembut hati yang akan meluluhkan
kekerasan, tak ada satupun jiwa yang tak mau bahagia, ku eja atas asma-asma
yang penuh cinta dan kasih, agar tenanglah hatiku ketika badai ragu menejang
teguh dan yakinku. Semua menari, semua menyanyi, berdendang tentang sebuah
alur-alur sendu. Nyanyian alam membaringkan jiwa pada kerinduan-kerinduan yang
alami, namun sungguh itu tak ku temui disini.
Ada
banyak hal yang ingin kusampaikan untukmu, betapa banyak tersimpan segala
kurangku atau bahkan lebihnya kasihku,
yang dalam hati terus membuncak untukmu, seikat dari sejuta salamku tertuai
untukmu, lewat angina malam kutitipkan salamku dan aku masih setia untuk satu
jujurku dan tiga kalimat suci yang masih tersimpan kuat dan rapat dalam
qalbuku.
Pagi
datang mengganti malam, aku bergegas dan bersiap untuk pulang dari pantai
lautan lepas yang menyisakan sebuah ingatan semu dalam batin dan meraga dalam.
Satu langkah bergegas pulang akhirnya terhenti ketika mata ini tertuju pada
wanita yang berdiri di bibir pantai, jaraknya cukup dekat sekitar 30 meter
sebelah kiri tempat aku berdiri, mata ini mempehatikan dengan seksama wanita
itu meski masih rebun, hamper semua ciri yang dimilikinya mirip dengan wanita
yang aku temui di desa sebrang dua bulan lalu, dari mulai ujung rambut sampai
ujung kaki. Aku menghampirinya karena rasa penasaranku, semakin jelaslah ciri
yang dimilikinya. Semakin jelaslah ku lihat ciri yang dimilikinya. Setelah
bertanya dan sedikit berbincang, benarlah wanita di bibir pantai itu adalah
Meysa, gadis yang aku temui di sebrang desa dua bulan lalu. Akhirnya kami
saling melontar kata dank u ceritakan kisahku saat pertama kali bertemu
dengannya.
Dengan
mengesampingkan rasa malu, tiga kalimat melontar dari bibir kotor ini, “AKU
CINTA KAMU” keheningan timbul dalam suasana pagi. Hati ini mulai tak karuan,
ketakutan kian membuncah saat kata itu keluar, ketakutan akan kenyelenehan
mulut ini. ternyata tiga kalimat itu muncul dari bibir indahnya, AKU CINTA KAMU
juga. Sontak kekagetan muncul saat telinga ini mendengarnya.
Benarkah
itu Meysa? Tanyaku
Ia
benar, aku juga mempunyai perasaan yang sama denganmu, aku selalu berdo’a dan
berharap pada Tuhanku agar kita dipertemukan kembali denganmu,” Jawab Meysa.
Meysa
juga tak tahu kenapa kamu mempunyai perasaan yang sama? Tanyaku
Meysa
juga tak tahu kenapa, tapi hati ini telah terkunci untukmu? Jawab meysa.
Ya
sudah biarlah, namun yang terpenting kita telah bersatu dalam iktan cinta dan
samudralah yang menjadi saksi ikatan cinta kita. Kebahagiaan tak terhingga
dalam jiwa, scenario Tuhan memang tak terkira, mungkin Tuhan menakdirkan kita
disini dengan membiarkan hambanya sedikit berkeluh kesah atasnya. Kebahagiaan
itupun membuncah dalam hati, tangan ini langsung memegang erat tangannya dan
kami pun menceburkan diri ke tepian lautan lepas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar