Sabtu, 20 Juni 2015

Samudra Cinta Lautan Lepas menjawab






Riak-riak ombak menyeruakan gemuruh senja, bias-bias mega di ujung langit semakin memperindah tatapan mata. Masih indah kupandang samudra senja dengan balutan mega, aku duduk termenung dibibir pantai putih menghirup dan menghembus nafas, sepintas mata ini terpejam, seakan berusaha merekah ulang masa indah yang telah lama menjadi ingatan semu dalam batin dan meraga dalam, sampai ke ufuk jiwa disebrang taman ruh hati ini. tanpa ku rasa seasana senja kian perlahan hilang diganti dengan ribuan bintang hiasi sang langit, deruan ombak pun semakin liar karena lautan mulai pasang.
Aku membaringkan tubuhku dan memejam mata untuk meluruskan sendi-sendi tulang di bibir pantai pasir putih, sekelabat muncul dalam ingatan semu, gadis yang aku temui di desa sebrang, orang desa sering memanggilnya Meysa. Meysa adalah seorang gadis yang anggun, polos, dan lugu, dibalik keluguan dan kepolosannya, Meysa mempunyai mata sipit yang indah, berkulit putih langsat, hidung mancung, bibir merah tipis merekah, rambut hitam panjang sampai ke punggung, alis yang tipis dan dagu yang tirus.
Malam pun tiba… tanpa kusadari wanita berbalut jilbab putih menghampiri dan menepuk pundakku, kaki langkahnya tak bersuara bagai angina, wanita itu menyapa dan menegurku,, hai.. sedang apa kamu disini sendiri?
Sontak kekagetan menghampiri, aku langsung menoleh kebelakang terbangun dari perebahan,, “ya” aku lagi duduk santai sembari menikmati udara pantai malam.” Jawabku
“oh ya?.” Tapi kenapa dari raut wajahmu ada hal yang sedang engkau pikirkan Nampak jelas kegelisahan yang tergambarkan dari mata sayumu?.
“tak ada apa-apa,, ini hanya ingatan semu masa lalu yang kembali muncul dalam ingatan sempitku.” Jawabku.
Oh begitu ya. Bolehkah aku tahu ingatan semu apakah yang engkau maksud? Tanya wanita berbalut jilbab putih.
Dengan terbata-bata aku menceritakan kisah pertemuan dengan gadis desa dua bulan lalu, mempunyai mata sipit yang indah, berkulit putih langsat, hidung mancung, bibir merah tipis merekah, rambut hitam panjang sampai ke punggung, alis yang tipis dan dagu yang tirus dan senyumnya yang merekah bagai bunga mawar yang bru mekar.
Benarkah ?? “dengan nada sedikit meninggi,, mungkin Tuhan belum menakdirkan kamu duduk bersanding dengan gadis yang kau gambarkan tadi.” Jawab wanita berbalut jilbab putih. Oke kalau begitu, aku pamit pulang, malam semakin larut, udara semakin dingin, jangan terlalu malam dipantai, angina malam tak baik bagi kesehatan.
“Ya terimakasih,, hati-hati dijalan”, jawabku
Aku kembali merebahkan tubuhku dibibir pantai dan memejam mata kembali. Hati kecil ini berkata..”kehidupan berbalut cinta biarlah ku eja atas nama do’a, ikhtiar dan tawakal. Seikat dan segumpal harap rindu mendayu menuju kekal. Tak semudah ku membalikkan telapak tanganku. Biarlah lembut hati yang akan meluluhkan kekerasan, tak ada satupun jiwa yang tak mau bahagia, ku eja atas asma-asma yang penuh cinta dan kasih, agar tenanglah hatiku ketika badai ragu menejang teguh dan yakinku. Semua menari, semua menyanyi, berdendang tentang sebuah alur-alur sendu. Nyanyian alam membaringkan jiwa pada kerinduan-kerinduan yang alami, namun sungguh itu tak ku temui disini.
Ada banyak hal yang ingin kusampaikan untukmu, betapa banyak tersimpan segala kurangku  atau bahkan lebihnya kasihku, yang dalam hati terus membuncak untukmu, seikat dari sejuta salamku tertuai untukmu, lewat angina malam kutitipkan salamku dan aku masih setia untuk satu jujurku dan tiga kalimat suci yang masih tersimpan kuat dan rapat dalam qalbuku.
Pagi datang mengganti malam, aku bergegas dan bersiap untuk pulang dari pantai lautan lepas yang menyisakan sebuah ingatan semu dalam batin dan meraga dalam. Satu langkah bergegas pulang akhirnya terhenti ketika mata ini tertuju pada wanita yang berdiri di bibir pantai, jaraknya cukup dekat sekitar 30 meter sebelah kiri tempat aku berdiri, mata ini mempehatikan dengan seksama wanita itu meski masih rebun, hamper semua ciri yang dimilikinya mirip dengan wanita yang aku temui di desa sebrang dua bulan lalu, dari mulai ujung rambut sampai ujung kaki. Aku menghampirinya karena rasa penasaranku, semakin jelaslah ciri yang dimilikinya. Semakin jelaslah ku lihat ciri yang dimilikinya. Setelah bertanya dan sedikit berbincang, benarlah wanita di bibir pantai itu adalah Meysa, gadis yang aku temui di sebrang desa dua bulan lalu. Akhirnya kami saling melontar kata dank u ceritakan kisahku saat pertama kali bertemu dengannya.
Dengan mengesampingkan rasa malu, tiga kalimat melontar dari bibir kotor ini, “AKU CINTA KAMU” keheningan timbul dalam suasana pagi. Hati ini mulai tak karuan, ketakutan kian membuncah saat kata itu keluar, ketakutan akan kenyelenehan mulut ini. ternyata tiga kalimat itu muncul dari bibir indahnya, AKU CINTA KAMU juga. Sontak kekagetan muncul saat telinga ini mendengarnya.
Benarkah itu Meysa? Tanyaku
Ia benar, aku juga mempunyai perasaan yang sama denganmu, aku selalu berdo’a dan berharap pada Tuhanku agar kita dipertemukan kembali denganmu,” Jawab Meysa.
Meysa juga tak tahu kenapa kamu mempunyai perasaan yang sama? Tanyaku
Meysa juga tak tahu kenapa, tapi hati ini telah terkunci untukmu? Jawab meysa.
Ya sudah biarlah, namun yang terpenting kita telah bersatu dalam iktan cinta dan samudralah yang menjadi saksi ikatan cinta kita. Kebahagiaan tak terhingga dalam jiwa, scenario Tuhan memang tak terkira, mungkin Tuhan menakdirkan kita disini dengan membiarkan hambanya sedikit berkeluh kesah atasnya. Kebahagiaan itupun membuncah dalam hati, tangan ini langsung memegang erat tangannya dan kami pun menceburkan diri ke tepian lautan lepas.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar